Tampilkan postingan dengan label sastra ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra ku. Tampilkan semua postingan

Eagle Flies Alone

Semut-semut di jendela kamar pun sibuk berbincang mengenai tempat siapakah ini.

"Disana bukanlah SURGA! Walopun banyak gula-gula tercecer disana, tetapi hawa kesendirian tercium sangat kuat disana!", kata seekor semut.

"Akh, betul juga. Hanya ada seorang lelaki kurus yang sibuk menuliskan sesuatu. Tak ada Surga disana." Timpal semut yang lain.

Tak lama kemudian seekor semut Rang-rang yang sudah renta, yang sejak tadi sibuk mencoba mengangkat sebutir gula pasir sendirian ikut berbincang, "Walopun bukan surga, tetapi aku merasakan kedamaian disana."

"Tidak ada damai di sana!, yang ada hanya kesendirian. Sebab hanya lelaki itu saja yang kami saksikan tengah duduk sembari menulis sampah kembaranya.", kata semut yang pertama.

Mendengar dua ekor semut muda berbincang dengan semut rang-rang renta, seekor burung pipit kecil yang sebenarnya sudah renta juga tertarik untuk mendekat.

"Wahai semut-semut, pernahkah kalian keliling dunia?", Burung pipit mencoba berbincang juga, "Apakah kalian tahu hewan apa yang pernah keliling dunia?


Elang! Iya hanya elang lah yang pernah keliling dunia dan menembus ketinggian angkasa menemui para dewa. Tahukah engkau semut, Elang melakukan itu semua dengan sendirian. Dia selalu berhasil memburu teman-temanku..

Wahai semut, apakah kau pernah bertemu harimau di belantara hutan? Dia lah yang setiap hari memburu kerbau yang tersesat dari kumpulannya. Tahukah kau, bahwa mereka lah yang selalu sendiri akan belajar sebuah kemandirian yang a
kan menuntutnya menjadi hewan yang luar biasa.

Walaupun sendiri, dia selalu ditakuti oleh kumpulan kerbau dungu yang banyaknya hampir ribuan.

Sekarang lihatlah pria kurus di kamar itu, tahukah kau apa yang sedang ditulisnya?

Mantera-Mantera Pikiran.

Dengan itu, dia akan belajar menata pikiran dan hatinya. Dia akan menjadi pria yang berpikir sebelum bertindak, mengingat segala sesuatu seperti ia selalu menuliskannya. Saat dia bersama-sama dengan yang lain, dia tidak akan mengikuti kumpulannya, tetapi dia akan bergerak menurut instingnya. dan Dia lah yang pada akhirnya memimpin kumpulannya.




Created By:
IIP



Pesan Moral:
Kesendirian adalah metode pembelajaran paling hebat yang akan melahirkan pemimpin yang hebat. Pemimpin yang tak terpengaruh mode atau tren, pemimpin yang bertindak atas rasionalitas bukannya kebenaran menurut banyak orang!

Inspirasi:

Sendiri… Not So Bad


Kesendirian..

Kesendirian Hati


Read For Full. . .

Preloud

Siang hari yang menyengat, di pertigaan jalan itu terlihat beberapa calo, tukang becak, dan pedagang asongan lalu lalang menanti datangnya bus yang lewat. Tak berapa lama sebuah bus antar kota mengurangi kecepatan secara perlahan dari arah timur. Bus itu tepat berhenti di dekat rumah makan di pinggir jalan. Para pedagang asongan dan beberapa tukang becak segera menyerbu bus itu. Siapa tahu mereka akan mendapatkan rezeki untuk memberi makan anak dan istri mereka.
Seorang gadis berkulit hitam manis dengan rambut sebahu terurai turun dari bus.
“Mbak, becak, mbak?”, kata seorang tukang becak menawarkan jasa.
“Tidak.”, jawab gadis berkaos putih itu sopan.
Gadis itu berlalu meninggalkan lalu lalang di sekitar bus yang baru saja berhenti itu. Ia berjalan menuju RS Kristen dan menyeberang jalan, lalu memasuki jalan kecil di depan Rumah Sakit. Wajah gadis itu tampak ceria.
“Huh, dua bulan telah berlalu. Tempat ini masih seperti dulu. Nyaman.”, kata gadis yang bertubuh seksi atau bisa dibilang agak gendut itu.
Ia masuk ke sebuah rumah sederhana, di depannya tumbuh sebuah pohon mangga.
“Eh, laras udah pulang!”, sapa seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam putih-putih itu kepada gadis yang bernama laras itu, “Gimana perjalanannya, nak?”
“Yah, jelas capek lah bun. Eh bunda mau ke RS?”, katanya kepada wanita tadi yang ternyata Ibunya. Ibunya adalah seorang perawat di RS Kristen di seberang jalan besar itu.
“Iya, bunda jaga siang! Tuh di meja makan ada makanan, kalau kamu mau makan siang.”, kata wanita itu sambil memeluk dan mencium kening anak gadisnya yang sudah tumbuh dewasa itu.
Wanita itu teringat pada masa kecil anak gadis semata wayangnya itu. Betapa susahnya mendidik anak seorang diri, tanpa bantuan seorang suami. Dia terharu pada pendirian anaknya itu. Ia masih ingat waktu masih kecil anaknya itu selalu bilang ingin jadi psikolog. Ia masih ingat saat mati-matian membangkitkan semangat anak gadisnya karena di SMA hanya bisa masuk ke kelas IPS. Padahal untuk menjadi seorang psikolog kesempatannya lebih besar di IPA. Dan saat ini anak gadisnya itu bisa kuliah di Fakultas Psikologi di Universitas ternama. Ia sungguh bahagia. Ia akan melakukan apa pun untuk membahagiakan Laras, anak gadis semata wayangnya.
“Ya udah, sana bunda berangkat. Jangan peluk aku terus dong! Laras kan capek.”, kata laras manja.
“Iya deh. Tapi bunda kan masih kangen sama kamu.”, kata wanita itu lalu pergi menuju RS.
Laras pun segera makan siang lalu istirahat di kamarnya yang selalu dirawat sangat rapihnya oleh bundanya selama dua bulan terakhir. Ia memandangi poster Yesus Kristus di dinding.
“Tak berubah sama sekali. Bunda emang yang terbaik!”, katanya dalam hati mengetahui kalau bundanya selalu merawat kamar itu baik-baik. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia lalu mengambil Handphonenya dan menulis sms.

***

“Hari ini panas banget! Udahan saja lah wan. Ntar puasaku nggak sampai maghrib gimana?”, kata Anto yang sedang jadi Blayer temannya panjat dinding.
“Heh, mendingan ginian! Kalo tidur terus puasamu nggak ada pahalanya!”, kata Wawan yang sibuk mencari point-point di dinding untuk pijakan.
Tiba-tiba Handphone Wawan yang diletakkan di dalam tas di dekat Anto berdering. Diambilnya Handphone itu lalu dilihatnya.
“Wan, ada sms ni! Dari Laras!”, teriak Anto.
“Bacain dong.”
“Ehm, aku bacain nih! Met Siang. Lagi ngapain? Aku baru aja nyampe rumah lho! Gitu bunyinya. Sapa sih Laras itu? Cewekmu?”, kata Anton yang membacakan sms Wawan.
“Adik kelas jaman SMA. Sekarang di Fakultas Psikologi Universitas –tiiit, sensor!-”, Jawab Wawan enteng, “Eh aku turun. Pegang talinya yang kuat!”, Wawan pun melepas pegangannya di point-point yang dibuat menyerupai batu-batu yang menonjol di tebing. Tubuhnya berayun-ayun di ketinggian sekitar sepuluh meter.
Setelah tubuh kurusnya menginjakkan tanah, “Eh beresin nih! Karena kamu ngeluh terus, kita udahan aja.”, kata Wawan kepada Anto, lalu mengambil Handphonenya dari Anto dan membalas sms.
“Nto, ntar malem aku nggak bisa ikutan buka bersama. Ada acara mendadak nih! Bilang ke teman-teman ya, aku di suruh pulang sama bokap!”, katanya kepada wawan yang sedang sibuk membereskan tali kernmentel.
“Halah! Bilang aja mau ngapelin cewek.”, gerutu Anto.
“Heh, bilang ke teman-teman aku di sms bokap suruh pulang ya. Inget, bokap gua! Oke?? Habis lebaran aku traktir kopi joss deh!”, rayu Wawan kepada Anto.
“Oke deh boss!”
Wawan adalah seorang Mahasiswa semester 3. Dia muslim yang baik dari keluarga muslim baik-baik. Dia juga anggota sebuah kelompok pecinta alam terbesar di Universitasnya, atau bahkan di kota itu.

***

Malam pun semakin larut. Adzan isya baru saja selesai berkumandang. “Jadi kamu tidak pulang selama dua bulan? Betah kamu ya di sana?”, kata wawan setelah meminum teh yang disuguhkan di atas meja.
“Ya gimana lagi. Di sini juga nggak ada teman, ngapain pulang.”, kata Laras, “Lho, kamu nggak solat..., solat apaan ya namanya, aku lupa.”
“Taraweh maksudmu?”
“Ya gitu deh.”
“Sekali-sekali nggak kan juga nggak apa-apa. Lagian udah lama aku nggak ngobrol sama kamu. Aku takut besok kamu udah pulang lagi.”, kata wawan menghela nafas.
“Nggak secepat itulah. Aku balik sehari setelah kamu lebaran.”, katanya.
Pertemuan kali ini terasa beda, setelah sekian lama. Laras merasa sangat canggung. Ia berusaha menemukan kembali perasaannya yang dulu terhadap lelaki yang sekarang duduk di depannya itu. Tapi bagaimana pun ia tetap tak menemukannya. Hanya hambar yang ia rasakan.
Begitu pula dengan lelaki yang bernama Wawan itu. Ia tak tahu bagaimana suasana hatinya sekarang. Senangkah? Sedihkah? Bukan. Bukan itu yang ia rasakan. Ia tak merasakan apa-apa. Padahal saat-saat seperti inilah yang telah lama ia rindukan. Ia menatap wajah Laras dengan seksama. Mencari sesuatu. Sesuatu yang akan menarik dirinya kembali seperti dulu. Dan sama seperti Laras, ia pun tak menemukannya.
“Kamu udah punya pacar?”, suara Laras memecah keheningan diantara mereka berdua.
“Hah?”, wawan masih saja terbengong.
“Kenapa sih bengong?? Masih terlena dengan wajah manisku?”, canda Laras mencairkan suasana seperti masa-masa dulu.
“Eh, oh, nggak kok. Ehm, maksudku aku enggak punya pacar.”, Wawan pun salah tingkah dibuatnya.
“Lha terus yang anak kebidanan itu gimana?”, tanya Laras kemudian.
“Intan maksudmu? Dia belum pulang. Tapi lebaran dia pasti pulang.”
“Yang aku maksud gimana hubungannya denganmu?”
“Owh, itu...”, Wawan berhenti sejenak, “Aku udah lama nggak ketemu dia. Nomor HP nya juga kayaknya udah ganti.”
“Begitu ya...”, kata Laras lebih kepada dirinya sendiri, “Jadi everestnya masih belum ada?”
Laras pernah begitu memahami Wawan. Ia begitu memahami perasaan wawan sebagai seorang pecinta alam. Bukan. Ia begitu memahami perasaan wawan sebagai seorang pendaki. Pendaki yang selalu bercita-cita terlalu tinggi. Merengkuh puncak Everest. Puncak tertinggi di dunia. Terletak di pegunungan Himalaya dengan ketinggian 29 ribu kaki lebih, atau 8800 an meter di atas permukaan laut.
“Sudah.”, jawabnya singkat.
“Sudah mulai mendaki?”
“Ya! Dan sepertinya aku tersesat. Aku tak akan mencapai puncaknya.”
“Begitu ya,” katanya kemudian, “Jadi kamu telah sadar kalau cita-citamu terlalu tinggi? Dan kini kamu telah menyerah dan mencari jalan kembali?”
“Ehm, sepertinya kamu sudah melupakan sifat-sifatku.”, kata wawan sementara Laras hanya diam dan bertanya-tanya apakah itu benar.
“Cita-cita harus digantungkan setinggi langit. Dan Aku akan memulai dari awal, mendaki ke puncak everest dari sisi yang berbeda. Dan aku masih yakin aku akan berdiri di salah satu puncaknya.”
“Lalu bagaimana dengan aku?”, tanya Laras kemudian. “Aku memang tak pernah menjadi everestmu ya?”
“Aku kan pernah bilang, kamu adalah bagian dari hidupku. Aku tak akan pernah melupakanmu. Kamu pernah mengisi sebagian hidupku, dan itu tak akan pernah hilang selama aku masih hidup. Tapi aku kira kamu sudah tak mau lagi mengisi sisanya. Jadi aku mencari orang yang akan mengisi sisanya, menyelesaikannya sampai akhir. Dan aku harap itu everest.”

***

Iedul Fitri pun berlalu, tetapi pagi ini belum menunjukkan arus balik yang begitu ramai. Seperti biasanya pertigaan jalan itu di penuhi orang-orang yang berusaha mengais rezeki. Di tepi jalan Laras dengan Bundanya sedang menanti kedatangan sebuah bus antar kota dari arah barat.
“Laras, apa ini nggak terlalu cepat? Bunda kan masih kangen sama kamu.”
“Laras juga gitu bun, tapi kalo besok-besok pasti lebih ramai sama arus balik. Lagian Laras kan pergi untuk mengejar cita-cita. Mendaki everest ku!”
“Apa yang kamu katakan barusan Laras?”
“Akh, nggak. Bukan apa-apa bun. Udah ya, tuh busnya dateng.”, Laras pun bersalaman dengan bundanya. Di peluknya erat-erat tubuh bundanya itu. “Aku pergi dulu bunda.”, bisiknya di telinga bundanya.
Laras pun naik ke dalam bus itu. Setelah naik, bus antar kota itu pun meluncur membawa laras ke arah timur. Bundanya melambaikan tangannya ke arah bus yang perlahan menghilang itu. “Selamat jalan nak. Semoga cita-citamu tercapai”, katanya.

The End


Pesan Moral:
Sesuatu yang telah berlalu biarkanlah berlalu, buatlaah itu menjadi kenangan. Karena mungkin saat kenangan itu kembali lagi, kau tak akan pernah merasakannya seperti dulu lagi. Tataplah ke depan, raih cita-citamu dan jangan pernah ingin meraih kenangan.

Read For Full. . .

Rasionalitas Vs Cinta

“Teman, akhir-akhir ini aku bingung apakah cinta itu? Dan apakah wanita itu cinta?”, sebuah pertanyaan tulus dari lubuk hati pun menyeruak ke luar, meminta sebuah jawaban.

“Oh sahabatku, cinta adalah sesuatu pengorbanan. Cinta adalah bukan suatu hubungan atau relasi. Cinta adalah sesuatu yang akan terus memberi, memberi, dan memberi. Dan wanita adalah bukan cinta.”, Sang otak yang dikenal rasionalis dan menolak segala sesuatu yang tak berakal mencoba menjawab kegundahan sahabatnya, sang hati.
“Aku tak paham dengan yang engkau bicarakan, teman.”, hati pun tak puas dengan jawaban sang otak, “bagaimana mungkin cinta adalah bukan suatu hubungan?Selama ini aku mencintai, dan itu merupakan suatu perasaan memiliki, memelihara, dan kasih sayang. Selama ini aku kira cinta adalah sesuatu keinginan untuk memiliki dan memelihara.” Hati selalu melihat segala sesuatu dengan perasaan semata. Rasionalitas baginya adalah sesuatu yang tak pernah ia mengerti, bagaimana seseorang bertindak dan melakukan sesuatu yang tak pernah ia inginkan. Baginya itu adalah penderitaan dan penyiksaan. Ia tak pernah tahu kenapa Tuhan menciptakan otak untuk mengatur semuanya bukannya dia.
“Sahabat”, kata si Otak, “semua yang dilihat mata, aku yang pertama tahu, semua yang didengar telinga, aku yang pertama tahu, semua yang dilakukan tangan dan kaki aku yang memerintahkannya, semua yang dimakan mulut, aku yang memerintahkannya. Tapi apa yang kau rasakan dan kau risaukan bukan aku yang memerintahkannya bahkan beberapa diantaranya tak pernah aku tahu. Kalau aku bilang cinta itu pengorbanan berarti itu benar adanya. Cinta yang kau katakan itu hanya nafsu semata, itu hanya perasaan. Nafsu dan perasaan adalah tidak baik.”
“Otak temanku, memang kau yang memerintahkan segalanya. Tapi ingatlah, Tuhan menciptakan aku untuk mengawasi dan membimbingmu. Tak semua hal harus dilakukan dengan pertimbangan rasionalitas, kadang perasaan lebih tepat untuk itu.”
“Hati, sahabatku. Kau adalah penenang. Kau tak lebih dari pujangga. Apakah kau ingat, saat kau selalu mengiginkan aku memikirkan gadis itu, aku lakukan itu. Lalu kau ingin aku katakan apa yang aku pikirkan kepadanya, dan aku lakukan itu juga. Lalu apa yang terjadi?”, nada si Otak pun semakin meninggi, “Akhirnya kau juga yang sakit. Kini kau terus menerus mengeluh, dan keinginanmu semakin tak rasional saja. Tangan, kaki, mulut, mata, dan telinga menjadi sedih karenamu. Lalu aku memenuhi keinginanmu yang tak rasional itu. Lalu apa akhirnya? Gadis itu hanya semakin menyakitimu. Maka aku katakan cinta adalah pengorbanan, bukannya kasih sayang atau saling memiliki. Bukankah itu benar, sahabat?”
“Oh teman, maafkanlah aku.”, kata si Hati dengan penyesalan yang tulus. “Tapi semua itu sudah terlanjur terjadi. Kini aku selalu bersedih karenanya. Dan aku tak pernah bisa untuk berhenti menyuruhmu memikirkannya. Aku selalu merasa kalau mawar yang paling indah selalu dipenuhi duri. Bagaimanakah itu temanku?”
“Dalam hal ini kau memang benar sahabat. Secara rasional semakin berharga sesuatu semakin banyak pengorbanan untuk meraihnya. Tapi tahukah kau, apa yang kau inginkan itu terlalu banyak pengorbanannya. Aku takut kau tak sanggup untuk menanggungnya.”, sang Otak menasehati Hati.
“Tahukah kau perasaanku sekarang, aku lebih baik berkorban segalanya daripada tak bersamanya. Maafkan aku Otak, temanku. Aku memang tak rasional tapi itu adalah ungkapan kasih sayang yang tak bisa di sandarkan pada sikap rasional sama sekali. Maukah kau melakukannya untukku?”
“Lalu bagaimana jika gadis itu tetap tak menerima semua pengorbananmu itu, sedangkan kita sudah tak punya apa-apa lagi untuk diberikan?”
“Mungkin jika saat itu tiba, aku akan menjadi sepertimu, mendewakan rasionalitas. Semua pertimbangan akan aku rasakan sebagai pertimbangan untung rugi semata.”, kata sang Hati dengan ketulusan dan kejujuran Tuhan semesta alam.
“Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta demi tegaknya rasionalitas!”

Read For Full. . .

Comersial Box