M untuk Malaysia


Aku masih ingat masa-masa kecil dulu, dimana dunia terlalu polos untuk saling berkompetisi satu sama lain. Tapi percaya atau tidak, aku mempunyai seorang rival. Sekaligus seorang sahabat, teman, dan tetangga dekat. Seorang sahabat, karena aku dan dia memiliki kemampuan yang seimbang. Kadang dia di atas, dan tak jarang aku yang diatas.
Seorang teman, selain kemampuan yang seimbang, aku dan dia memiliki obsesi yang sama, visi misi, dan cara berpikir yang sama dalam memandang suatu hal. Bukan aku protagonis dan bukan pula dia antagonisnya. Tetapi aku dan dia memainkan kedua peran itu satu sama lain. Seorang tetangga, karena rumahku dan rumahnya memang berdekatan, aku dan dia pun sering bermain bersama.
Seorang rival, aku dan dia selalu berusaha mencapai obsesi yang sama. Ranking di kelas, pujian wanita, banyaknya teman bermain, banyaknya teman yang mau menyontek PR, banyaknya teman yang mau membantu, dan masih banyak hal remeh lain yang saat itu aku anggap sebuah prestasi hidup. Mungkin masih kecil, tetapi hawa persaingan begitu kental, bahkan tak jarang terjadi diantara orang tua.
Sejak itu kusadari, hidup tanpa persaingan tidak akan membuat kita menjadi maju dan lebih baik. Persaingan memang tidak selamanya sehat dan bersih, kadang cara-cara kotor pun dilakukan. Saat masih kecil, dia selalu lebih unggul dalam prestasi sekolah baik karena dia lebih rajin (bukan lebih cerdas) ataupun karena orang tua nya berpengaruh di sekolah dasar dulu.
Tetapi dunia pun berputar, saat memasuki sekolah menengah pertama, aku pun jauh unggul diatas rivalku itu. Walaupun satu sekolah, dia sama sekali jauh dari obsesi masa kecil dulu. Tetapi yang bikin aku surprised adalah bagaimana dia menempatkan diri, memasang strategi demi keuntungan sendiri.
Dengan posisi aku yang jauh melampauinya, dia pun tidak lagi menempatkan aku sebagai rival. Dulu saat dia menjadi sahabat anaknya pak camat, selalu tidak mau kalo aku ikut nimbrung bermain, tetapi kini, dia tak segan-segan menjadi (bisa dibilang) bawahan.
Seorang rival memang seorang tetangga, jika jauh tidak mungkin dijadikan rival. Baik karena tidak ada persaingan ataupun karena perbedaan obsesi. Hal ini, aku lihat juga dalam kehidupan berbangsa. Indonesia yang dikatakan serumpun dengan Malaysia memang berdekatan baik secara letak maupun obsesi.
Indonesia dan Malaysia aku katakan sebagai rival. Baik dari sisi kepentingan maupun kemampuan tidak jauh beda. Selanjutnya tinggal bagaimana kita memasang strategi agar bisa selalu menang dari Malaysia.
Jika aku seorang Malaysia, akan melihat Indonesia sebagai rival yang sangat membahayakan. Dilihat dari segi historis, kita merupakan bangsa yang agresif. Mulai dari zaman majapahit, Trikora dan Dwikora, sampai masa tim-tim. Aku seorang Malaysia akan memandang jika Indonesia kuat, maka akan menjadi ancaman yang menakutkan. Tak ada jaminan jika zaman majapahit tidak kembali terulang. Namun sebaliknya, jika Indonesia hancur dalam kekacauan, Malaysia sebagai tetangga juga akan kerepotan. Ribuan pengungsi akan membanjiri Malaysia, lebih banyak dari jumlah TKI dan TKW yang ada di sana sekarang.
Jika aku seorang Malaysia tidak akan menyerang Indonesia secara langsung, karena itu akan menyusahkan diri sendiri. Tetapi juga tidak akan membiarkan begitu saja Indonesia menjadi bangsa yang maju dan kuat.
Aku seorang Malaysia akan mencari teman dan sekutu Internasional. Mencoba menghambat Indonesia menjadi maju dan kuat, tanpa menghancurkannya. Dan jika pun Indonesia menjadi lebih maju daripada Malaysia, sekutu Internasional dapat membantu Malaysia agar terhindar dari agresi Indonesia.
Bayangkan saja, Kalau Indonesia sekarang menggempur Malaysia akan dibantu oleh negara-negara commonwealth-nya, Australia, Singapura, Inggris, dan lain-lain, bahkan mungkin Amerika Serikat. Lalu bagaimana dengan kita? Indonesia seperti tak punya teman, kita akan berjuang sendiri melawan dunia.
Kasus Sipadan-Ligitan merupakan salah satu bukti bagaimana Malaysia membawa kasus itu ke ranah Internasional hingga Indonesia akhirnya dipermalukan. Kasus Ambalat pun sengaja digiring kembali ke tingkat Internasional. TNI AL dibuat geram melihat manuver kapal-kapal perang Malaysia membelah lautan, sementara kapal perang kita hanya melihat dan memperhatikan karena kalah kecepatan. Kapal Indonesia tidak berani menembak terlebih dahulu, karena jika itu terjadi Malaysia akan mengumumkan ke seluruh dunia kalau Indonesia yang memulai perang.
Malaysia sebagai tetangga begitu jelas menempatkan kita sebagai rival terberatnya, terlihat bagaimana mereka seringkali membuat geram kita baik kasus Tari Pendhet, atau pun yang lainnya. Malaysia memelihara pasukan besar di perbatasan. Dua dari empat divisi daratnya, yang masing-masing terdiri dari dua brigade, ditempatkan disekitar teluk malaya, sementara divisi ketiga bertugas mempertahankan kalimantan utara. Hanya divisi ke-empat yang mempertahankan wilayah sekitar Brunei.
Lalu, sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana Indonesia memandang Malaysia? Sebagai rivalkah, atau sebagai sesuatu yang selalu membayangi kita dan kita tak dapat melakukan apa-apa. Pilihan ini tergantung kita sendiri.

0 komentar:

Comersial Box